Perkembangan
Industri dan Teknik Industri di Indonesia
A.
Perkembangan Industri di Indonesia
Industri
adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, bahan setengah
jadi atau barang jadi menjadi barang yang bermutu tinggi dalam penggunaannya.
Bahan-bahan industri diambil secara langsung maupun tidak langsung, kemudian
diolah sehingga menghasilkan barang yang bernilai lebih bagi masyarakat.
Kegiatan proses produksi dalam industri itu disebut dengan peridustrian.
Industri (perindustrian) di Indonesia merupakan salah satu komponen
perekonomian yang penting. Perindustrian memungkinkan perekonomian kita
berkembang pesat dan semakin baik, sehingga membawa perubahan dalam struktur
perekonomian nasional.
Pada tahun 1920-an
industri modern di Indonesia semuanya dimiliki oleh orang asing, walau
jumlahnya hanya sedikit. Setelah Indonesia merdeka, Tahun 1951, pemerintah
meluncurkan RUP (Rencana Urgensi Perekonomian). Program utamanya menumbuhkan
dan mendorong industri kecil pribumi dan memberlakukan pembatasan industri
besar atau modern yang dimiliki orang Eropa dan Cina. Pada tahun 1957 sektor
industri mengalami stagnasi dan perekonomian mengalami masa teduh, pada tahun
1960-an sektor industri tidak berkembang. Perkembang sektor industri sejak orde
baru Akibat karena situasi polotik yang bergejolak, juga disebabkan kurangnya
modal dan tenaga ahli yang terampil. Pemberlakuan dua undang-undang baru, PMA
tahun 1967 dan PMDN tahun 1968 ternyata mampu membangkitkan gairah sektor
industri.
Industri merupakan
sektor prioritas utama orde baru. Untuk mendukung pembangunan industri
nasional, pemerintah menganut dua strategi industrialisasi yang berbeda yang
dijalankan secara berturut-turut, yakni diawali dengan substitusi impor dengan
penekanan pada industri-industri padat karya seperti tekstil dan
produk-produknya, seperti pakaian jadi (TPT), alas kaki, produk-produk dari
kayu (khususnya kayu lapis), dan makanan serta minuman, dan dilanjutkan
belakangan dengan pembangunan industri-industri perakitan otomotif, dan
kemudian pada awal dekade 80-an bergeser secara bertahap ke promosi ekspor.
Strategi kedua ini terfokus pada pengembangan industri-industri padat karya
yang berorientasi ekspor.
Pada
awal Orde Baru, industri manufaktur relatif lambat berkembang. Misalnya,
berdasarkan data BPS, nilai produksi industri manufaktur tahun 1969 tercatat
hanya 1,42 miliar dollar AS. Salah satu faktor penghambat yang terpenting
adalah devisa negara yang terbatas. Karena industri asli lokal masih sedikit,
hampir semua jenis mesin harus diimpor. Kelangkaan devisa ini menyebabkan
pemerintah harus mengadakan pengawasan ketat atas impor, dan pembatasan ini
merupakan kendala serius bagi Indonesia untuk membangun industri-industri.
Produksi makanan dan kayu merupakan jenis-jenis kegiatan industri yang mana
Indonesia memiliki keunggulan komparatif atas negara-negara lain. Keunggulan
komparatif Indonesia dalam produksi makanan dan kayu diantaranya adalah tenaga
kerja yang murah dan membuat makanan dan produk-produk dari kayu adalah
kegiatan-kegiatan industri padat karya, dan kaya SDA (pertanian dan hutan pohon
yang luas). Tentu, dengan kemajuan teknologi saat ini, Indonesia juga harus
mengembangkan keunggulan kompetitifnya seperti kualitas SDM dan teknologi untuk
tetap unggul di pasar dunia untuk kedua jenis produk tersebut. Karena bukan
tidak mungkin bahwa suatu saat sebuah negara kecil yang sedikit jumlah
penduduknya (yang berarti upah tenaga kerja relatif lebih mahal daripada di
Indonesia) dan miskin SDA (sehingga harus impor komoditi pertanian dan kayu)
bisa menjadi unggul dalam ekspor produk-produk makanan dan kayu, karena negara
tersebut memiliki SDM, menguasai teknologi paling akhir dalam produksi makanan
dan kayu, dan memiliki jaringan pemasaran global yang luas.
Kelemahan industri Indonesia seperti juga di banyak NSB lainnya adalah masih lemahnya industri-industri pendukung mulai dari pembuatan mesin hingga sejumlah komponen untuk satu produk jadi seperti mobil. Karena pada umumnya sifat dari proses-proses produksi di kelompok industri-industri berat seperti pengolahan logam hingga mesin-mesin sangat kompleks dan memerlukan SDM dengan ketrampilan tinggi, teknologi, dan modal yang lebih tinggi dibandingkan industri-industri ringan, walaupun di dalam beberapa hal, proses produksi implosive di subsektor industri berat untuk jenis industri-industri engineering bisa dilakukan secara efisien dengan menggunakan teknologi yang relatif padat karya.
Secara keseluruhan, masih ada beberapa kelemahan yang bisa dilihat dari pembangunan industri nasional hingga saat ini.
Pertama, seperti telah
dijelaskan sebelumnya, walaupun selama tiga puluh tahun lebih sejak Indonesia
memulai industrialisasi pada awal pemerintahan Orde Baru sempai sekarang,
industri nasional telah mengalami perluasan struktur, bobotnya masih lebih
berat pada kelompok industri ringan, khususnya barang-barang konsumsi ringan
seperti makanan, minuman, tembakau, tekstil dan kayu. Selain itu, walaupun
sepanjang periode tersebut banyak muncul industri-industri yang menghasilkan
bahan-bahan baku dan penolong, sebagian besar dari NT yang dihasilkan oleh
industri-industri tersebut berasal dari cabang-cabang industri yang sifat dari
pengolahan bahan-bahan bakunya tidak memerlukan suatu mata rantai yang panjang
untuk langsung menjadi barang-barang jadi seperti tekstil atau tekstil menjadi
pakaian jadi, dan kayu menjadi meubel dan kertas.
Kedua, sebagian besar cabang-cabang industri yang mengolah bahan-bahan baku dan penolong memiliki tahap-tahap produksi yang relatif pendek dan hanya mencakup proses implosive pada tahap-tahap paling akhir. Hal ini dapat dilihat dari data perdagangan internasional Indonesia menurut jenis industri yang menunjukkan tingginya kandungan impor dari produk-produk tersebut. Hingga saat ini sebagian besar dari cabang-cabang industri tersebut masih lebih bersifat sebagai industri-industri perakitan, terkecuali industri-industri pupuk, karet, kayu, semen dan pengilangan minyak.
Ketiga, walaupun ada perkembangan selama tiga dekade terakhir ini, kontribusi terhadap pembentukan NT dari industri manufaktur atau PDB pada tingkat lebih luas dari industri-industri dasar atau hulu seperti besi baja masih relatif kecil. Padahal, kemajuan pembangunan sektor industri atau peningkatan industrialisasi di suatu negara dicerminkan juga oleh peningkatan pangsa NT dari industri manufaktur atau PDB dari industri besi baja. Hal ini disebabkan belum berkembangnya industri-industri barang modal atau lainnya di dalam negeri yang memakai output dari industri besi baja sebagai inputnya. Dalam kata lain keterkaitan produksi domestik dari industri besi baja ke depan dengan industri-industri tengah masih lemah: industri-industri hilir yang memerlukan mesin atau komponen atau barang lainnya berbahan baku besi atau baja masih impor dari luar, sementara output dari industri besi baja di Indonesia langsung di ekspor shingga tidak menghasilkan NT yang berarti di dalam negeri.
Keempat, secara umum, ketergantungan impor dari industri nasional masih sangat tinggi, terutama kelompok industri-industri tengah yang membuat bahan-bahan baku dan penolong, barang-barang modal dan alat-alat produksi, dan kelompok industri-industri hilir, khususnya barang-barang konsumsi tahan lama. Akibatnya sumbangan NT dari industri-industri tersebut masih relatif kecil; walaupun untuk industri-industri tertentu ada kenaikan selama tiga dekade terakhir ini. Salah satu penyebabnya adalah bahwa sebagian besar dari industri-industri tersebut masih bersifat perakitan, dan industri-industri penunjang belum berkembang baik.
Kalangan ekonom
menyebut perkembangan industri di Indonesia termasuk belum memiliki arah yang
jelas. Oleh karena itu, industri dalam negeri cenderung tidak berkembang dengan
baik. Di satu sisi, tidak adanya panduan tegas bagi para investor asing
menjadikan mereka bebas untuk menanamkan modal pada sektor-sektor yang mereka
kuasai.
Akibatnya, daya saing industri nasional semakin lemah pada sektor yang telah dikuasai oleh para investor asing tersebut.
Akibatnya, daya saing industri nasional semakin lemah pada sektor yang telah dikuasai oleh para investor asing tersebut.
Pengamat Ekonomi Hendri Saparini mengungkapkan dampak kedepannya adalah, Indonesia kehilangan beberapa rantai industri yang semestinya bisa menjadi peluang untuk mengerabangkan industri nasional. Saat ini, di Indonesia berkembang industri yang sangat hulu dan sangat hilir, dan akibat negatifnya adalah justru kehilangan industri yang menjadi perantara dari industri hulu ke hilir tersebut.
Sebagai negara industri maju baru, sektor industri Indonesia harus mampu memenuhi beberapa kriteria dasar antara lain Memiliki peranan dan kontribusi tinggi bagi perekonomian Nasional, IKM memiliki kemampuan yang seimbang dengan Industri Besar, Memiliki struktur industri yang kuat, Teknologi maju telah menjadi ujung tombak pengembangan dan penciptaanpasar, Telah memiliki jasa industri yang tangguh yang menjadi penunjang daya saing internasional industri, dan Telah memiliki daya saing yang mampu menghadapi liberalisasi penuh dengan negara-negara APEC.
B.
SEJARAH TEKNIK INDUSTRI DI INDONESIA
Sejarah Teknik Industri di Indonesia di awali dari kampus Universitas Sumatera Utara [USU], Medan pada tahun 1965 dan dilanjutkan dengan Teknik Industri ITB Institut Teknologi Bandung. Sejarah pendirian pendidikan Teknik Industri di ITB tidak terlepas dari kondisi praktek sarjana mesin pada tahun lima-puluhan. Pada waktu itu, profesi sarjana Teknik mesin merupakan kelanjutan dari profesi pada zaman Belanda, yaitu terbatas pada pekerjaan pengoperasian dan perawatan mesin atau fasilitas produksi. Barang-barang modal itu sepenuhnya diimpor, karena di Indonesia belum terdapat pabrik mesin.
Di Universitas Indonesia, keilmuan Teknik Industri telah dikenalkan pada awal tahun tujuh puluhan, dan merupakan sub bagian dari keilmuan Teknik Mesin. Sejak 30 Juni 1998, diresmikanlah Jurusan Teknik Industri (sekarang Departemen Teknik Industri) Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Kalau pada masa itu, dijumpai bengkel-bengkel tergolong besar yang mengerjakan pekerjaan perancangan konstruksi baja seperti yang antara lain terdapat di kota Pasuruan dan Klaten, pekerjaan itu pun masih merupakan bagian dari kegiatan perawatan untuk mesin-mesin pabrik gula dan pabrik pengolahan hasil perkebunan yang terdapat di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dengan demikian kegiatan perancangan yang dilakukan oleh para sarjana Teknik Mesin pada waktu itu masih sangat terbatas pada perancangan dan pembuatan suku-suku cadang yang sederhana berdasarkan contoh-contoh barang yang ada. Peran yang serupa bagi sarjana Teknik Mesin juga terjadi di pabrik semen dan di bengkel-bengkel perkereta-apian. Pada saat itu, dalam menjalankan profesi sebagai sarjana Teknik Mesin dengan tugas pengoperasian mesin dan fasilitas produksi, tantangan utama yang mereka hadapi ialah bagaimana agar pengoperasian itu dapat diselenggarakan dengan lancar dan ekonomis. Jadi fokus pekerjaan sarjana Teknik Mesin pada saat itu ialah pengaturan pembebanan pada mesin-mesin agar kegiatan produksi menjadi ekonomis, dan perawatan (maintenance) untuk menjaga kondisi mesin supaya senantiasa siap pakai.
Pada masa itu, seorang kepala pabrik yang umumnya berlatar-belakang pendidikan mesin, sangat ketat dan disiplin dalam pengawasan terhadap kondisi mesin. Di pagi hari sebelum pabrik mulai beroperasi, ia keliling pabrik memeriksa mesin-mesin untuk menyakini apakah alat-alat produksi dalam keadaan siap pakai untuk dibebani suatu pekerjaan. Pengalaman ini menunjukan bahwa pengetahuan dan kemampuan perancangan yang dipunyai oleh seorang sarjana Teknik Mesin tidak banyak termanfaatkan, tetapi mereka justru memerlukan bekal pengetahuan manajemen untuk lebih mampu dan lebih siap dalam pengelolaan suatu pabrik dan bengkel-bengkel besar. Sekitar tahun 1955, pengalaman semacam itu disadari benar keperluannya, sehingga sampai pada gagasan perlunya perkuliahan tambahan bagi para mahasiswa Teknik Mesin dalam bidang pengelolaan pabrik. Pada tahun yang sama, orang-orang Belanda meninggalkan Indonesia karena terjadi krisis hubungan antara Indonesia-Belanda, sebagai akibatnya, banyak pabrik yang semula dikelola oleh para administratur Belanda, mendadak menjadi vakum dari keadministrasian yang baik. Pengalaman ini menjadi dorongan yang semakin kuat untuk terus memikirkan gagasan pendidikan alternatif bidang keahlian di dalam pendidikan Teknik Mesin. Pada awal tahun 1958, mulai diperkenalkan beberapa mata kuliah baru di Departemen Teknik Mesin, diantaranya : Ilmu Perusahaan, Statistik, Teknik Produksi, Tata Hitung Ongkos dan Ekonomi Teknik. Sejak itu dimulailah babak baru dalam pendidikan Teknik Mesin di ITB, mata kuliah yang bersifat pilihan itu mulai digemari oleh mahasiswa Teknik Mesin dan juga Teknik Kimia dan Tambang.
Sementara itu pada sekitar tahun 1963-1964 Bagian Teknik Mesin telah mulai menghasilkan sebagian sarjananya yang berkualifikasi pengetahuan manajemen produksi/teknik produksi. Bidang Teknik Produksi semakin berkembang dengan bertambahnya jenis mata kuliah. Mata kuliah seperti : Teknik Tata Cara, Pengukuran Dimensional, Mesin Perkakas, Pengujian Tak Merusak, Perkakas Pembantu dan Keselamatan Kerja cukup memperkaya pengetahuan mahasiswa Teknik Produksi. Pada tahun 1966 - 1967, perkuliahan di Teknik Produksi semakin berkembang. Mata kuliah yang berbasis teknik industri mulai banyak diperkenalkan. Sistem man-machine-material tidak lagi hanya didasarkan pada lingkup wawasan manufaktur saja, tetapi pada lingkup yang lebih luas yaitu perusahaan dan lingkungan. Dalam pada itu, di Departemen ini mulai diajarkan mata kuliah : Manajemen Personalia, Administrasi Perusahaan, Statistik Industri, Perancangan Tata Letak Pabrik, Studi Kelayakan, Penyelidikan Operasional, Pengendalian Persediaan Kualitas Statistik dan Programa Linier. Sehingga pada tahun 1967, nama Teknik Produksi secara resmi berubah menjadi Teknik Industri dan masih tetap bernaung di bawah Bagian Teknik Mesin ITB. Pada tahun 1968 - 1971, dimulailah upanya untuk membangun Departemen Teknik Industri yang mandiri. Upaya itu terwujud pada tanggal 1 Januari 1971.
Sejarah Teknik Industri di Indonesia di awali dari kampus Universitas Sumatera Utara [USU], Medan pada tahun 1965 dan dilanjutkan dengan Teknik Industri ITB Institut Teknologi Bandung. Sejarah pendirian pendidikan Teknik Industri di ITB tidak terlepas dari kondisi praktek sarjana mesin pada tahun lima-puluhan. Pada waktu itu, profesi sarjana Teknik mesin merupakan kelanjutan dari profesi pada zaman Belanda, yaitu terbatas pada pekerjaan pengoperasian dan perawatan mesin atau fasilitas produksi. Barang-barang modal itu sepenuhnya diimpor, karena di Indonesia belum terdapat pabrik mesin.
Di Universitas Indonesia, keilmuan Teknik Industri telah dikenalkan pada awal tahun tujuh puluhan, dan merupakan sub bagian dari keilmuan Teknik Mesin. Sejak 30 Juni 1998, diresmikanlah Jurusan Teknik Industri (sekarang Departemen Teknik Industri) Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Kalau pada masa itu, dijumpai bengkel-bengkel tergolong besar yang mengerjakan pekerjaan perancangan konstruksi baja seperti yang antara lain terdapat di kota Pasuruan dan Klaten, pekerjaan itu pun masih merupakan bagian dari kegiatan perawatan untuk mesin-mesin pabrik gula dan pabrik pengolahan hasil perkebunan yang terdapat di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dengan demikian kegiatan perancangan yang dilakukan oleh para sarjana Teknik Mesin pada waktu itu masih sangat terbatas pada perancangan dan pembuatan suku-suku cadang yang sederhana berdasarkan contoh-contoh barang yang ada. Peran yang serupa bagi sarjana Teknik Mesin juga terjadi di pabrik semen dan di bengkel-bengkel perkereta-apian. Pada saat itu, dalam menjalankan profesi sebagai sarjana Teknik Mesin dengan tugas pengoperasian mesin dan fasilitas produksi, tantangan utama yang mereka hadapi ialah bagaimana agar pengoperasian itu dapat diselenggarakan dengan lancar dan ekonomis. Jadi fokus pekerjaan sarjana Teknik Mesin pada saat itu ialah pengaturan pembebanan pada mesin-mesin agar kegiatan produksi menjadi ekonomis, dan perawatan (maintenance) untuk menjaga kondisi mesin supaya senantiasa siap pakai.
Pada masa itu, seorang kepala pabrik yang umumnya berlatar-belakang pendidikan mesin, sangat ketat dan disiplin dalam pengawasan terhadap kondisi mesin. Di pagi hari sebelum pabrik mulai beroperasi, ia keliling pabrik memeriksa mesin-mesin untuk menyakini apakah alat-alat produksi dalam keadaan siap pakai untuk dibebani suatu pekerjaan. Pengalaman ini menunjukan bahwa pengetahuan dan kemampuan perancangan yang dipunyai oleh seorang sarjana Teknik Mesin tidak banyak termanfaatkan, tetapi mereka justru memerlukan bekal pengetahuan manajemen untuk lebih mampu dan lebih siap dalam pengelolaan suatu pabrik dan bengkel-bengkel besar. Sekitar tahun 1955, pengalaman semacam itu disadari benar keperluannya, sehingga sampai pada gagasan perlunya perkuliahan tambahan bagi para mahasiswa Teknik Mesin dalam bidang pengelolaan pabrik. Pada tahun yang sama, orang-orang Belanda meninggalkan Indonesia karena terjadi krisis hubungan antara Indonesia-Belanda, sebagai akibatnya, banyak pabrik yang semula dikelola oleh para administratur Belanda, mendadak menjadi vakum dari keadministrasian yang baik. Pengalaman ini menjadi dorongan yang semakin kuat untuk terus memikirkan gagasan pendidikan alternatif bidang keahlian di dalam pendidikan Teknik Mesin. Pada awal tahun 1958, mulai diperkenalkan beberapa mata kuliah baru di Departemen Teknik Mesin, diantaranya : Ilmu Perusahaan, Statistik, Teknik Produksi, Tata Hitung Ongkos dan Ekonomi Teknik. Sejak itu dimulailah babak baru dalam pendidikan Teknik Mesin di ITB, mata kuliah yang bersifat pilihan itu mulai digemari oleh mahasiswa Teknik Mesin dan juga Teknik Kimia dan Tambang.
Sementara itu pada sekitar tahun 1963-1964 Bagian Teknik Mesin telah mulai menghasilkan sebagian sarjananya yang berkualifikasi pengetahuan manajemen produksi/teknik produksi. Bidang Teknik Produksi semakin berkembang dengan bertambahnya jenis mata kuliah. Mata kuliah seperti : Teknik Tata Cara, Pengukuran Dimensional, Mesin Perkakas, Pengujian Tak Merusak, Perkakas Pembantu dan Keselamatan Kerja cukup memperkaya pengetahuan mahasiswa Teknik Produksi. Pada tahun 1966 - 1967, perkuliahan di Teknik Produksi semakin berkembang. Mata kuliah yang berbasis teknik industri mulai banyak diperkenalkan. Sistem man-machine-material tidak lagi hanya didasarkan pada lingkup wawasan manufaktur saja, tetapi pada lingkup yang lebih luas yaitu perusahaan dan lingkungan. Dalam pada itu, di Departemen ini mulai diajarkan mata kuliah : Manajemen Personalia, Administrasi Perusahaan, Statistik Industri, Perancangan Tata Letak Pabrik, Studi Kelayakan, Penyelidikan Operasional, Pengendalian Persediaan Kualitas Statistik dan Programa Linier. Sehingga pada tahun 1967, nama Teknik Produksi secara resmi berubah menjadi Teknik Industri dan masih tetap bernaung di bawah Bagian Teknik Mesin ITB. Pada tahun 1968 - 1971, dimulailah upanya untuk membangun Departemen Teknik Industri yang mandiri. Upaya itu terwujud pada tanggal 1 Januari 1971.
Dalam sejarah disiplin
teknik industri, studi telaah kerja yang dilakuakn oleh Taylor dan Gilbreths
sebaik titik awal muncul, tumbuh dan berkembangnya disiplin tersebut yang
kemudian mampu memperkaya kazanah ilmu keteknikan yang ada. Disamping kedua
tokoh ini, arah dan pertumbuhan disiplin teknik industri yang diwarnai oleh
hasil kerja pionir-pionir lainnya seperti Henry Gantt (Bar/Gantt Charts),
Harington Hemorson
Meskipun historis
perkembangan disiplin teknik industri berangkat dari disiplin teknik mesin
(mechanical engineering dan terutama sekali sangat berhubungan erat dengan
sistem manufaktur yang proses transformasi-produksinya terjadi secara fisik;
disiplin teknik industri telah berkembang luas dalam dua dekade terahir ini.
Sesuai dengan “nature” industri yang pendefinisiannya sangat luas; yaitu
mulai dari industri yang menghasilkan produk-barang fisik (manufaktur) atau
jasa (service), sampai ke industri hulu/dasar yang banyak berhadapan dengan
persoalan-persoalan teknis atau industri hilir yang lebih menonjolkan
aspek-aspek ekonomis pemasarannya.Demikian juga problem yang harus dikaji oleh
disiplin teknik industri yang awal mulanya lebih terkonsentrasi ke lantai
produksi (mikro) terus melebar luas mengarah ke problem manajemen industri
(perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengndalian sistem produksi )
yang harus pula mempertimbangkan faktor sistem lingkungan dalam proses
pengambilan keputusan. Dalam hal ini disiplin teknik industri mengkedepankan
konsep sistem, analisis sistem dan pendekatan sistem dalam setiap proses
pangambilan keputusan. Disiplin teknik industri melihat segala permasalahan
industri dengan tinjauan dari aspek-aspek teknis (engineering) maupun non
teknis ( sosial-ekonomis). Wawasan “tekno-sosio-ekonomis” akan
mewarnai penyusunan kurikulum pendidikan teknik industri dan merupakan
karakteristik yang khas dan membedakan disiplin ini dibandingkan dengan
disiplin-disiplin lainnya.
Sebegitu luasnya ruang
lingkup yang bisa dimasuki untuk mengaplikasikan keilmuan teknik industri, bagaimanapun
juga hal ini dapat dikelompokkan kedalam 3 ( tiga) topik pokok yang menjadi
landasan utama pengembangan disiplin teknik industri. Pertama adalah
berkaitan erat dengan permasalahan-permasalahan yang menyangkut dinamika aliran
material yang terjadi di lantai produksi. Studi disini akan menekankan
pada prinsip-prinsip yang terjadi pada saat proses transformasi / nilai tambah
dan aliran material yang terjadi pada sistem produksi yang terus berkelanjutan
sampai meningkat ke persoalan aliran distribusi dari produk akhir ( finished
goods output ) yang keluar dari pabrik menuju konsumen. Topik kedua adalah
berkaitan dengan dinamikaaliran informasi. Persoalan pokok yang dipelajari
dalam hal ini akan berkaitan dengan aliran informasi yang diperlukan dalam
proses pengambilan keputusan yang menyangkut persoalan-persoalan manajemen
industri. Pendekatan kedua ini dalam disiplin teknik industri akan memerlukan
landasan yang kuat melalui penguasaan matematika, fisik dan engineering
sciences. Selanjutnya topikketiga cenderung untuk bergerak ke arah
persoalan-persoalan yang bersifat makro dan strategis. Persoalan yang dihadapi
seringkali sudah tidak ada lagi bersangkut-paut dengan problem yang timbul di
lini produksi (sistem produksi) ataupun manajemen produksi / industri;
melainkan sudah beranjak ke persoalan diluar dinding-dinding pabrik. Hal yang
terahir inilah yang cenderung membawa disiplin teknik industri untuk terus
menjauhi persoalan-persoalan teknis (eksak, fisik-kuantitatif) yang umum
dijumpai di lini sistem produksi dan bergelut dalam persoalan non-teknis yang
serba abstraktif-kualitatif.
DAFTAR PUSTAKA
